Menyikapi Keberadaan Asing di Indonesia

Posted: June 8, 2011 in Artikel

Semua orang Indonesia tentu tahu bahwa Indonesia adalah negara yang ramah terhadap keberadaan asing di negara ini, hal ini terlihat dari sejumlah MNC (Multinational Corporations) yang berada di Indonesia, sebut saja beberapa perusahaan seperti Microsoft, Oracle, Nestle.

Tentu alasan MNC tersebut melakukan investasi atau memilih suatu negara berdasarkan pertimbangan sebagai berikut yang utamanya adalah upah buruh rendah, kemampuan negara menyerap teknologi milik MNC tersebut, daya beli masyarakat negara tuan rumah, kebijakan pemerintah terhadap asing, dan stabilitas politik

Mari kita cermati satu persatu, pertimbangan upah buruh rendah tentu Indonesia sudah memenuhi, Indonesia adalah negara yang sangat diminati sebagai tempat berinvestasi karena upah buruh di Indonesia jauh lebih murah dibanding negara lain di Asia Tenggara, meski Cina adalah negara nomor satu dalam hal upah buruh, hal ini dikarenakan sangat banyak masyarakat kita yang memiliki pendidikan rendah, sehingga sulit memiliki pekerjaan memadai, jika ada tawaran bekerja dari MNC sebagai buruh, meski dengan upah rendah, mengapa mereka menolak? Maka jadilah mereka bekerja sebagai buruh, dan hal ini disenangi MNC karena MNC bisa menghemat biaya cukup besar daripada harus melakukan investasi di negara asalnya yang tentunya lebih banyak tenaga terampil yang membutuhkan upah lebih tinggi

Pertimbangan kedua, sejujurnya Indonesia belum bisa memenuhi dengan baik, bagaimana tidak, adakah perkembangan yang sangat signifikan bahwa Indonesia kini sudah menyerap teknologi asing dengan baik? Di sektor transportasi, Indonesia hanya baru mengadopsi sistem bus rapid transit seperti di luar negeri (di Jakarta kita mengenalnya sebagai TransJakarta), selain itu?

Belum ada lagi, padahal seingat saya Jakarta beberapa tahun lalu akan mengadopsi sistem transportasi monorel, tapi bahkan pembangunannya saja tidak terlihat. Memang benar bahwa semua itu sebenarnya perlu waktu, namun setidaknya sudah ada perkembangan yang signifikan dari penyerapan teknologi milik asing ke Indonesia, toh perusahaan asing masuk ke Indonesia bukan baru 5-10 tahun lalu tapi sudah lebih lama lagi

Pertimbangan ketiga, daya beli masyarakat negara tuan rumah, Indonesia bisa memenuhi dengan baik, bahkan terlalu baik, sebutan lainnya adalah, konsumtif. Yak inilah salah satu yang membuat Indonesia menjadi sasaran empuk bagi MNC dalam memilih Indonesia sebagai tempat memasarkan produknya

Pertimbangan keempat, sudah cukup jelas bagaimana kebijakan pemerintah terhadap asing, amat sangat ramah, terlihat dari dimudahkannya MNC dalam mendirikan usahanya di Indonesia

Pertimbangan kelima, stabilitas Indonesia juga saat ini bisa dikatakan stabil, tidak ada pergolakan atau pemberontakan dan semacamnya seperti halnya di Timur Tengah. Kesemua itu telah membuat Indonesia menjadi tempat favorit bagi asing dalam melakukan ekspansi pasarnya

Namun jika dicermati, sebenarnya Indonesia adalah negara yang unik, bagaimana tidak?

Faisal Basri, seorang analis ekonomi dengan gamblang menyebutkan bahwa kini penetrasi asing mulai merasuk ke berbagai sektor penting Indonesia, sebut saja beberapa contoh yaitu sektor perbankan, pertanian, pertambangan dsb.

Dua hal mengapa penulis mengatakan unik, pertama, di tengah fakta yang memang mengatakan bahwa asing bermain dengan jelas di Indonesia, Menteri Koordinator Perekonomian Indonesia berkelit bahwa peran asing menurun. Benar apa yang dikatakan Faisal Basri yang sepertinya bertanya-tanya dimana buktinya bahwa peran asing kian menurun dari 1998-2010, lagipula penurunan 5% saja bukanlah hal yang signifikan menurut penulis, dengan asumsi jika benar ada penurunan peran asing.

Hal unik kedua dari Indonesia berkaitan dengan keberadaan asing adalah kebijakan-kebijakan Indonesia berkaitan ekspor-impor ataupun privatisasi. Seperti yang dikemukakan dalam contoh oleh Faisal Basri, Indonesia mengekspor bauksit mentah, lalu mengimpor alumina yang diolah dari bauksit, pertanyaan yang muncul, mengapa Indonesia tidak mengolah sendiri menjadi alumina? Lagipula setelah diolah menjadi alumunium, bukankah hal ini aneh? Ditambah lagi Indonesia malah menunda pengesahan Undang-undang Minerba

Contoh lain lagi adalah privatisasi, mengapa Indonesia melakukan kebijakan privatisasi terhadap perusahaan-perusahaan yang sebenarnya memiliki peluang untuk tumbuh? Ambil contoh nyata kasus Indosat yang dijual era Megawati. Terbukti bahwa kini Indosat adalah perusahaan yang menangguk untung cukup besar, sayang untung tersebut akhirnya tidak masuk kas negara. Apa ini berarti bahwa pemerintah tidak becus menjaga asetnya? Atau ada hal lain dibalik penjualan aset negara tersebut?

Tak bisa dipungkiri, sebenarnya kehadiran asing dalam perekonomian suatu negara kerap diperlukan keberadaannya, tengok contoh yang diberi Faisal Basri mengenai investasi asing pada negara seperti Bolivia, Vietnam, India dsb. Kesemuanya mengalami pertumbuhan ekonomi cukup signifikan.

Kalau begitu, secara logis seharusnya Indonesia berada pada jajaran negara yang merasakan pertumbuhan ekonomi layaknya negara yang disebutkan sebelumnya, namun nyatanya tidak dan malah kalah dengan negara yang sama-sama menyandang status “berkembang”.

Tiga alasan yang dikemukakan oleh Faisal Basri boleh jadi memang penyebab mengapa pertumbuhan tak kunjung ada padahal asing cukup gencar di Indonesia, apalagi benar bahwa pemerintah gagal memberdayakan potensi kekuatan nasional, namun tetap saja kekuatan nasional kalah kekuatan asing dilihat dari laba yang dihasilkan. Intinya, tepat sekali keberadaan asing di Indonesia adalah salah urus dan menjadi kesia-siaan.

Sumber: Terinspirasi dari analisis ekonomi oleh Faisal Basri berjudul Menjinakkan Asing, Kompas, Senin, 30 Mei 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s